Rabu, 26 Desember 2018

#7 Matilda



“Ada hal lucu tentang para ibu dan ayah. Bahkan, meskipun anak kandung mereka adalah berandal cilik paling menyebalkan yang bisa kau bayangkan, mereka masih berpikir bahwa anak mereka hebat.”

Begitulah paragraph pertama di halaman pertama buku ini membuka cerita. Kalimat sindirian untuk seluruh orang tua di dunia. Ini berlanjut hingga beberapa halaman. Saat membaca kalimat demi kalimat, kita akan mengamini sambil tertawa.

Namun, memasuki halaman keempat kita akan disuguhi cerita yang berkebalikan. Tentang orang tua yang tidak membanggakan anaknya. Bahkan, tidak tahu—karena tidak peduli—bahwa anaknya cerdas. Orang tua yang menganggap anaknya hanya seorang pengganggu, bodoh, dan tidak mungkin menjadi pintar. Orang tua yang mungkin oleh ahli parenting saat ini akan dilabeli orang tua yang tidak siap menjadi orang tua.

Adalah Matilda, gadis cilik empat tahun, anak kedua dari pasangan Mr. Wormwood dan Mrs. Wormwood yang istimewa, tetapi kurang beruntung karena memiliki orang tua yang tidak peduli padanya. Sejak berusia 3 tahun Matilda sudah belajar membaca sendiri. Usia empat tahun dia sudah lancar membaca.

Sabtu, 15 Desember 2018

6# Sea Prayer


Menulis juga merupakan salah satu cara memotret sejarah, mengabadikannya, untuk kemudian menjadi bahan renungan dan pelajaran penikmatnya.

Ada buku yang hadir untuk dinikmati kata-katanya. Ada pula buku yang hemat kata tetapi beruah cerita. Terlihat sederhana, padahal nyatanya terlahir oleh darah dan air mata.

Mungkin, dua paragraf di atas cukup mewakili buku ilustrasi karya Khaled Hosseini—penulis buku bestseller The Kite Runner—ini. Yaitu, buku ilustrasi yang memotret sejarah yang penuh air mata dan darah meski disampaikan dengan minim kata.


5# Larasati --Melihat Sejarah dari Kacamata Orang Biasa—



Ada yang mengatakan bahwa fiksi yang baik mengandung kebenaran, dan saya setuju ini. Fiksi yang baik dapat menggambarkan dengan pas latar cerita yang dipakai, baik waktu maupun tempat. Bila latar itu nyata, semakin mendekati keadaan sesungguhnya semakin ia kuat dan menguatkan cerita. Bilapun ingin membuat cerita yang tak sesuai kisah nyata, harus ada sebab akibat yang membuatnya bisa diterima akal. Atau, memilih kisah fantasi sekalian.

Melalui Larasati, Pramoedya ingin menceritakan kondisi bangsa di masa setelah proklamasi, masa penuh pergolakan, dari sudut pandang masyarakat biasa. Ketika wilayah Indonesia masih terbagi dua, yaitu wilayah yang dikuasai oleh para pejuang kemerdekaan dan wilayah pendudukan Belanda. Bagaimana kondisi rakyat kecil sehari-hari berteman baik dengan kelaparan dan ancaman kematian, bagaimana perjuangan para pemuda menghadapi Belanda yang tak jua rela hengkang dari tanah jajahannya, juga orang-orang yang hanya mementingkan dirinya meskipun dengan menjual bangsanya.


4# Di Bawah Bendera Merah



"Mereka yang berjuang lebih, akan mendapatkan lebih. Tak hanya materi, tetapi juga makna."

Ini adalah buku memoar singkat kehidupan Mo Yan. Salah satu pengarang legendaris Cina dalam bentuk novel autobiografis.

Perjalanan hidup peraih nobel sastra 2012 dan penulis novel Red Shorgum--yg diadaptasi ke film dan menjadi film China pertama menuai box office di Barat--bukanlah perjalanan yg mudah. Apalagi sampai pada titik diakui karyanya oleh dunia internasional. Ada kerja keras, konsistensi, harapan, dan semangat pantang menyerah yang dia jaga.

Judul: Di Bawah Bendera Merah
Penerbit : Serambi
Tahun terbit: 2013
Hlm.: 144

https://www.instagram.com/p/BpJpFskF17G/

3# Benarkah Ibrahim Mencari Tuhan?




Ada yang mengejutkan pemahaman saya tentang kisah ini. Kisah perjalanan Ibrahim mencari Tuhan yang telah begitu melekat.

Berawal dari ada naskah untuk buku anak yang sedang dikerjakan, saya mulai menelusuri kembali kalimat demi kalimat kisah para nabi dalam beberapa buku referensi.

Lalu, saya menemukan bahwa tafsir dari surah Al-An’aam 75-79 bukanlah tentang Ibrahim yang mencari Tuhan, sabagaimana yang saya ketahui selama ini. Bahwa sesungguhnya, dialog Ibrahim yang seakan-akan menganggap bulan, bintang, dan matahari sebagai tuhan adalah dialog yang dia tujukan untuk kaumnya. Bukan untuk dirinya sendiri. 

Saat itu, kaum Nabi Ibrahim, selain menyembah berhala, juga menyembah bintang-bintang. Mereka memiliki tujuh bintang yang disembah.


Minggu, 26 Agustus 2018

2# Heidi – Kebahagiaan Adalah ….



“Sekarang aku tahu, Tuhan, bahwa Engkau punya rencana yang lebih baik dan aku senang nantinya Tuhan akan memberiku yang terbaik, tak peduli apa yang terjadi sekarang.” [hlm. 282]
*****
Jika kita mengetik kata “maienfeld” di mesin pencari akan muncul sebuah kota yang dilabeli “Heidi’s World” atau “Heidi’s Village”. Bahkan, di youtube ada video “heididorf ….” yang menayangkan sudut maienfeld, khususnya dorfli. Ada pula sebuah rumah yang di depannya ada papan bertulis Welcome Visit Heidi’s House the Original  yang dari sana sejauh mata memandang terlihat deretan Pegunungan Alpen yang menenangkan.

Hampir semua web tersebut adalah web perjalanan wisata. Tak heran, pasti tempat ini menjadi booming setelah novel Heidi diangkat menjadi film sehingga menjadi salah satu tujuan wisata terkenal di Swiss hingga hari ini. Seperti saat ada film 5 cm, anak-anak muda Indonesia menjadi merasa ‘harus’ mendaki Semeru, dan menikmati romantisme Ranu Kumbolo.

Ini membuktikan bahwa tulisan memiliki kekuatan menggerakkan. Yang bisa jadi memiliki efek yang lebih panjang dari sang penulis. Oleh karena itu, alangkah rugi bila kita menulis gagasan yang merusak, kemudian dia tetap hidup menyebar ke seluruh muka bumi, sementara kita telah berkalang tanah.

Sabtu, 04 Agustus 2018

1# Bridge to Terabithia – Jembatan Penghubung Kenangan



Terkadang, ….., kau harus memberikan kepada orang lain sesuatu yang mereka sukai, bukan sesuatu yang membuatmu merasa senang karena telah memberikannya. _hlm.229_
*****
 “Jika kau satu-satunya anak lelaki yang diapit  empat saudara perempuan, dan dua saudari tertuamu mulai tidak menyukaimu sejak kau tidak lagi membolehkan mereka memakaikan bajumu atau mendorongmu di kereta tua boneka mereka, dan si bungsu menangis setiap kali kau menatapnya dengan mata juling, maka memiliki seorang saudari yang mengagumimu sangatlah menyenangkan. Meski terkadang bisa merepotkan.” (Hlm. 3)
               
Begitulah situasi Jesse Oliver Aarons Jr. (kelas 5 SD), seorang anak laki-laki dalam keluarga yang riuh. Jess memiliki dua kakak perempuan beranjak remaja yang mulai menyebalkan—menurut Jess, adik perempuan 4 tahun yang cengeng, dan satu adik perempuan menjelang 7 tahun yang mengaguminya. Formasi ini sangat pas menjadi alasan keributan setiap pagi, entah karena berebut jatah makan atau saling ledek. Keluarga Jess adalah keluarga biasa yang hidup di sebuah desa bernama Lark Creek. Ayah dan ibunya harus berjuang keras untuk menghidupi keluarga. Ayahnya bolak-balik ke Washington untuk bekerja.  Setiap hari, ayahnya berangkat pagi-pagi sekali, sebelum anggota keluarga yang lain bangun dan pulang menjelang malam. Hidup dalam keluarga yang terbatas secara ekonomi menjadikan Jess dan saudari-saudarinya memiliki tugas-tugas harian demi meringankan beban orang tuanya. Tugas Jess adalah membersihkan Nona Bessie, si sapi, dan memerah susunya setiap pagi.